Salju

Selamat membaca!

Jumat, 10 Juni 2016

pendidikan masa depanku





Bagiku, ilmu adalah masa depan

Yang bisa memerdekakanku, dari kebodohan

Yang bisa mengangkat harkat, menuju masa depan



Pendidikan adalah saluran ilmu

Yang selalu berkembang dari waktu ke waktu



Jika mereka punya senjata

Aku hanya punya buku dan pena

Untuk merubah dunia

Lewat ilmu, pendidikan berbalut cita



Karena pendidikan tak akan pernah berakhir

Selagi kita  masih terus berpikir

Menimba ilmu walau harus ke negeri Cina,





Pendidikan masa depanku

Ilmu pengetahuan cita-citaku


Rabu, 06 April 2016

karya sastra anak

MOTOR BUNTUT AYAH
Brrruumm “ suara motor ayah membangunkan tidur siangku bunyi meraung-raung, terdengar sekali suaranya. Aku melihat dari jendela ayah turun dari motor satu – satunya kendaraan kami sekeluarga. Sebuah motor kuno dengan tangki bensin didepan. Bisa dipakai tempat duduk adikku kalau dibonceng ayah. Bentuk hampir sama seperti motor balap, dengan motor lain yang bentuknya sama pun, motor ayah tetap kelihatan jelek dan tua. Kata ayah motor itu dibeli kakek pada tahun 1982, sudah ketinggalan zaman kan?.
Rasanya aku tidak pernah melihat motor seperti itu selain motor ayah. Bahkan tukang ojekpun motornya lebih bagus itu membuatku malu ketika dibonceng ayah. Berkali- kali aku berkata pada ayah motornya kuno, jelek ketinggalan zaman dan lain-lain.
“Iyaaaa…. Antik lagi motor ayah, yang penting enggak pernah mogok “ jawab ayah selalu begitu. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain kesal dan jengkel kepadanya, ayah tidak pernah serius menanggapi omonganku yang ingin ganti sepeda motor. Aku pernah malu ditempat parker sebuah swalayan, gara-gara ayah mengunci stang motor tiba-tiba datanglah parker yang ngomel-ngomel “ pak jangan dikunci stang, motor kayak gitu enggak bakal ada yang nyuri pak “ katanya jengkel tukang parkir. “ iyaaa..iyaaa…” kata ayah heran wajahnya biasa aja padahal aku malu sekali dibilang seperti itu.
Kuci stang adalah kenci kemudi sepeda motor posisi kemudi menjadi belok ke kiri terus tidak bisa dibelokkan kanan atau lurus. Jadi menyusahkan tukang parkir untuk mengatur sepeda motor.
“ bu kenapa sih enggak ganti sepeda motor saja? “ kata aku sepulang dari belanja
“ kenapa tika “ kata ibu
“ bikin malu saja, tadi swalayan dimarahi tukang parkir gara-gara sepeda motor jelek itu” kata ku
“Di marahii ? “ kata ibu menjawab dengan heran
“ iyaaa… “ kata aku
“ bukan gara-gara motornya, nak ayah yang salah “ tiba-tiba muncul diruang makan.
“ tapi gara-gara jelek ayah sepeda motornya “ kata aku sambil sebal dan jengkel dengan ayah
“ ahhhh motor bagus, motor jelek kalau merepotkan tukang parkir juga bakalan diomeli, enggak usah didengerrin “ kata ayah dengan santai.
“ ahhh ayah terlalu saying sama motor butut itu udah jelek kecil lagi “ kata aku dengan jengkel
Suatu sore pergi bersam ayah lain dari biasanya, motor ayah agak tersendat-sendat
“ kenapa ayah “ Tanya aku khawatir
“ hemmmm… enggak tahu ini businya kotor kanyaknya “ kata ayah sambil berfikir seperti itu
Motor masih bisa berjalan namun sampai di lampu merah tiba - tiba mesin motor mati, berkali-kali distater tidak bisa, aku khawatir , jangan - jangan rusak sampai lampu merah berganti hijau belumbisa menyala.
Tin…tin…tin… !! mobil dibelakang membunyikan klakon berkali-kali
“ Tika kamu turun dulu “ perintah ayah. Aku segera turun
“ Tika bantuin ayah mendorong sepeda motornya ke pinggir jalan raya “ kata ayah sambil berteriak dan menoleh ke belakang yang sedang dibelakang sepeda motor.
Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, marah dan malu masih disuruh untuk mendorong speda motor. Huhh aku justru bergegas kepinggir jalan, bukannya mendorong sepada moror membantu ayah.
            Akhirnya ayah menuntun sepeda motohnya sendirian kepinggir jalan, kasihan juga sih  tapi aku benar-benar kesal. “ Kepala ku menengok kekan dan kekiri takut ada slah satu teman ku yang melihat, untunglah tidak ada satupun “ dalam hati aku berkata, karena aku merasa kesal sekali dengan ayah yang saying sekali dengan sepeda motor buntutnya itu.
“ ayah sihh” kata ku dengan jengkel, tapi aku tidak meneruskan takut justru tangis yang sejak lama tadi aku tahan-tahan akhirnya keluar juga dengan sendirinya. Akhirnya aku hanya bisa memandangi ayah membuka mesin motor dilepasnya sebuah benda kecil, warna putih aku tahu itu yang namanya busi dan diganti dengan busi cadangan tak lama kemudian mesinpun jalan lagi ayah pun tersenyum lega.
Sesampai di rumah pun kau langsung masuk rumah dengan rasa jengkel sekali dengan kejadian tadi di jalan raya dan berbicara dengan nada kesal
“ pokoknya Tika enggakmau naik motor itu lagi ”  kataku sampai menangis
“ kenapa Tika? “ ibu menatapku heran kuhempaskan tubuh di atas sofa sambil menangis tersedu-sedu
“ kenapa ayah? “ ibu berpaling kepada ayah
“ sepeda motor ayah tadi mogok di jalan raya “ jawab ayah dengan singkat, ayah tahu aku marah karena sepanjang jalan aku tutup mulut.
“ ooo seperti itu “ kata ibu mengerti apa yang aku rasakan
Aku berlari kemar dan menagis dengan tersedu - sedu
            Beberapa saat kemudian ibu dating menghampiriku dan berbicara “ Tika ayah dan ibu juga sama seperti Tika ingin punya sepeda motor yang lebih bagus “
Masih tetap menangis aku menatap wajah ibu, ibu tersenyum “ tapi tentu kita menunggu saat yang tepat untuk mewujudkannya, aat yang tepat maksudnya “ kata ku sambil menangis tersedu-sedu.
“ coba lihat ini “ kata ibu mengeluarkan buku tulis kecil, kulihat isinya berupa angka – angka menunjukkan jumlah uang
“ apa ini bu? “ kata ku sambil tidak tahu maksudnya dari buku kecil itu
“ ini di selah kiri ini adalah catatan uang yang kita terima setiap bulannya “ kata ibu sambil memperlihatkan buku kepada Tika
“ aku masih bingung bu ini, ini apa aku tidak tahu maksudnya “ kata aku kepada ibu
“ sekarang lihat ini, ini adalah daftar uang yang diterima dan dikeluarkan ibu dalam waktu satu bulan jumlah uang yang keluar adalah sisa kita dalam satu bulan “ dan ibu menunjukkan jumlah uang yang menurutku tidak cukup besar nominalnya.
            “ Ini uang yang kita tabung setiap bulannya, belum cukup untuk membeli sepeda motor Tika” kata ibu
Aku pun terdiam, aku mulai bisa mengerti kenapa ayah masih memakai sepeda motor butut itu. Aku tahu harga sepeda motor mahal sekali dengan sebesar itu butuh waktu lama untuk bisa membeli sepeda motor tersebut.
“ Yah memang belum saatnya ayah ganti sepeda motor, sekarang aku mengerti dan merasa bersalah pada ayah karena sering bersiap kasar karena sepeda motor buntutnya itu, aku harus meminta maaf pada ayah “ kata ku dalam hati bersalah kepada ayah.

Nama : Yusrina Zakia Rahma
Nim   : 201510430311228
Kelas : PGSD 2E